oleh

Belajar Kaifatushalli, Santri QTC Al Mady Lebih Pahami Perbedaan Gerakan Shalat

SLEMAN – Selain belajar Al Qur’an dengan metode baru, yaitu Ummi, Santri Quran Training Centre (QTC) Al Mady Yogyakarta juga diajarkan Kaifatushalli.

Program kaifatushalli atau mengenal dan mengajarkan gerakan sholat dari berbagai sumber mahdzab. Buku Kaifatushalli yang menjadi rujukan QTC Al Mady ditulis Pembina dari Ummi Foundation Nasional, K.H. M. Ihya’ Ulumiddin.

Kemampuan santri QTC Al Mady dalam mempraktikkan Gerakan-gerakan shalat beserta dalilnya diuji oleh publik dalam Khotaman Imtihan Akbar di Auditorium UPN “Veteran” Yogyakarta, Minggu (24/11/2019) lalu.

“Ada berbagai macam Gerakan shalat. Imam itu kan ada 4 mahdzab yang populer di Indonesia, nah itu bisa diterangkan oleh anak-anak. Dengan begitu mereka bisa menghargai perbedaaan,” katanya dalam keterangan pers, Selasa (26/11/2019)

 

Ia menambahkan, Kaifatushalli perlu diketahui, Hal itu agar ummat Islam di Indonesia tidak salah paham dalam menyikapi dan mengomentari perbedaan gerakan shalat,

“Ini sudah ditanamkan kepada anak-anak di QTC Al Mady,” ujarnya.

Sementara itu terkait belajar Al Qur’an, Farida mengungkapkan, QTC Al Mady menjadi percontohan nasional metode Ummi dalam mengajarkan Al Qur’an kepada para santrinya. Hasilnya luar biasa, rata-rati santri bisa menuntaskan belajar Al Qur’an selama satu tahun.

Menurutnya, keunggulan metode ummi adalah anak-anak bisa dengan mudah dan cepat mempelajari Al Qur’an dengan benar dan tepat. Misalnya, kata dia, untuk turjuman, anak-anak bisa mengartikan per ayat dan perkata,

“Dari Tartil, Turjuman Al Qur’an, serta yang baru Kaifatushalli,  rata-rata satu tahun anak-anak sudah mampu menuntaskan,” tuturnya.

Hal itu terbukti dengan sedikitnya 101 Santri yang dinyatakan lulus dalam Khotaman Imtihan Akbar 2019 yang sudah ke empat kalinya diselenggarakan. Tahun-Tahun sebelumnya, ratusan santri juga telah dilulusan.

“Rata -rata santri Al Mady yang masih usia anak-anak mampu menuntaskan belajar dalam satu tahun dengan metode Ummi. Ini dibuktikan juga dengan uji Publik,” ujarnya.

Dalam Khotaman Imtihan Akbar QTC Al Mady kemarin, pihaknya mengundang 5000 orang dari berbagai TPA dan TPQ di Yogyakarta, dimana para undangan tersebut boleh bertanya berbagai materi yang sudah dipelajari para santri,

“Para hadirin diberi kesempatan untuk menguji atau bertanya kepada anak-anak (Santri) terkait materi yang diajarkan. Ternyata anak-anak mampu menjawab dengan lancar dan benar. Artinya bisa dipertanggungjawabkan dan dapat dilihat sudah tuntas semua,” tuturnya.

Selain itu, kata dia,  Imtihan Akbar juga sebagai sosialisasi QTC Al Mady yang menggunakan metode Ummi, program khusus yang tidak diajarkan di TPQ lain atau Lembaga senisnya,

“Hanya Ummi Foundation Yogyakarta yang menerapkan. Jadi QTC Al Madilah yang pertama, menjadi percontohannya lembaga-lembaga (TPQ) yang ingin memakai metode Ummi,” imbuhnya.

Farida menambahkan  acara  Imtihan Akbar kemarin dihadiri Direktur Umi Foundation, K.H. M. Ihya’ Ulumiddin.

Sementara itu salah satu santri lulusan terbaik QTC Almady 2019, Muhammad Hakim Fadli Himatullah mengaku belajar Al Qur’an di QTC Al Mady sangat menyenangkan dan mudah dipahami. Ia mengaku bisa menuntaskan materi hanya dalam waktu 1 tahun di TPQ semi pesantren yang beralamat di Jl. Candi Sambisari, Juwangen, Purwomartani,Kalasan Sleman, tersebut,

“Belajar Al Qur’an di QTC Al Mady tidak berat, menyenangkan, ustadz uztadzahnya baik-baik, teman-teman menyenangkan. Saya sangat bangga dan Bahagia banget bisa lulus dari Al Mady,” kata siswa kelas 4 SD Idea Baru Kalasan ini. (pra)

Komentar

News Feed